September 28, 2017

Welcome to Milan, Don Carlo?

sindonews.com


Berita dipecatnya Carlo Ancelotti dari Bayern Muenchen membuat para Milanisti ikut bergembira. Setidaknya ketika pada saat sekarang ini performa Milan belum begitu ciamik di Serie A, dan adanya gonjang-ganjing soal pelengseran Vicenzo Montella dari posisi pelatih.

Sehingga ketika ada sebuah nama besar di jajaran pelatih yang bisa diharapkan akan menjadi pengganti apabila nanti ternyata Montella benar-benar tidak berada lagi di kursi pelatih Milan, Milan tidak perlu lagi meragukan kapabilitas seorang Ancelotti.

Apalagi mengingat bahwa Milan adalah klub yang pernah memberi torehan prestasi buat Ancelotti baik sebagai pemain maupun pelatih. Bahkan beberapa musim lalu ketika posisi Milan sedang terpuruk, Ancelottilah yang sangat diharapkan untuk pulang ke Milan dan membangkitkan lagi prestasi Milan, agar tidak melulu tenggelam dalam kenangan kebesaran masa lalu.

Akan tetapi tidak segampang itu berandai-andai. Aangkah lebih baik jika Montella masih diberi kesempatan membesut Milan dan membuktikan kapasitasnya sebagai seseorang yang memang pantas melatih klub sebesar Milan. Apalagi perjalanan Milam musim lalu yang dibawanya maju ke liga eropa musim ini, dan laju Milan di liga eropa sampai saat ini masih cukup meyakinkan.

Mari berharap saja Montella menyelesaikan tugasnya sampai akhir musim dengan memberi prestasi bagi Milan, sementara Don Carlo menikmati masa istirahatnya dulu, baru musim depan membesut Milan kemudian.

#ForzaMilan #weareacmilan #WelcomeAncelotti

September 24, 2017

Ada Apa Dengan Milan?


goal.com

Belanja besar yang dilakukan Milan pada awal musin tentunya dengan tujuan membawa Milan kembali ke tempat yang semestinya, menjadi klub yang disegani di Italia khususnya dan Eropa atau Dunia pada umumnya. Namun hingga giornata ke 6, Milan sudah mengalami 2 kali kekalahan dengan permainan yang masih belum stabil.

Mungkin memang butuh waktu untuk dapat mempersatukan tim yang berisi banyak pemain baru yang bahkan mungkin belum mengenal kultur liga Italia, juga untuk dapat mengerti visi permainan yang dimaui pelatih.

Jangan buru-buru mengatakan bahwa hal ini merupakan kesalahan pelatih atau bahkan menganggap sebagai kesalahan dalam melakukan kebijakan transfer. Sekali lagi, faktor waktu memiliki peranan yang tidak bisa diabaikan begitu saja dalam proses pembentukan dan penyatuan sebuah tim.

Karena apa? Karena yang terjadi pada Milan saat ini adalah sebuah revolusi, di mana transfer tidak hanya dilakukan terhadap satu-dua orang pemain saja atau transfer tambal sulam. Tapi transfer yang dilakukan dengan melibatkan jumlah pemain yang cukup besar, sehingga perlu waktu untik membangun sebuah tim yang kuat dan mumpuni untuk melakoni 3 kompetisi dengan jadwal yang padat.

Montella Out?
Apakah mendepak Vicenzo Montella dari kursi pelatih merupakan solusi yang dibutuhkan untuk mengatasi krisis (jika ini layak disebut krisis) yang terjadi pada Milan? Toh, kalau Montella benar didepak dan masuk pelatih baru, pasti juga butuh waktu untuk menyatukan tim. 

Yang jelas, evaluasi penampilan tim harus dilakukan agar tidak lagi ada pengulangan kesalahan-kesalahan yang akan berimbas pada hasil akhir perjalanan tim di kompetisi. Rotasi memang mutlak dilakukan untuk menjaga performa dan kesegaran phara pemain, di sinilah peran Vicenzo Montella dan jajaran pelatih untuk memilah pemain dan taktik strategi yang menguntungkan tim.

Pada saat ini klub sudah mendapat dukungan penuh dan stadion juga mulai terisi dengan para suporter yang ingin ikut merasakan euforia kembali kejayaan Milan. Jangan sampai antusiasme fans melemah dan berkurang, dan menjaga kepercayaan fans itu bukan hal yang mudah.

#ForzaMilan

September 10, 2017

Setelah Kekalahan

acmilan.com
Pil pahit harus ditelan Milan setelah pada minggu ketiga Serie A musim 2017/2018 harus menelan kekalahan dengan skor telak 4-1 dari tuan rumah Lazio melalui hattrick Ciro Immobile dan Alberto. Milan hanya bisa membalas sebiji gol melalui Riccardo Montolivo. 

Pemilihan formasi dan pemain yang tidak tepat oleh Vicenzo Montella banyak mendapat kecaman dan kritikan dari Milanisti di seluruh dunia. Mereka beranggapan bahwa seharusnya Montella tidak memasang Borini di sayap kiri, karena ada Bonaventura yang sudah kembali dari cedera. Namun dengan alasan menyimpan Bonaventura untuk laga Eropa, Montella tetap memasang Borini.

Hasilnya? Banyak yang menilai kontribusi Borini dari sisi kiri penyerangan Milan sangat minim, tidak ada kreasi yang tercipta dari sana. Pemain berikut yang mendapat kritikan adalah Montolivo. Meskipun mencetak gol di pertandingan, namun Milanisti lebih memilih untuk memberi kesempatan kepada Locatelli yang walaupun berlabel Not For Sale tapi jarang dimainkan. 

Pemilihan striker juga dipertanyakan mengingat Milan punya dua striker mahal yang baru dibeli, yaitu Kalinic dan Andre Silva. Jika pertimbangan yang dipakai Montella memasang Cutrone karena dianggap mengenal kultur Serie A, bukankah Kalinic juga sudah mengenalnya dengan baik?

Walaupun pada akhirnya Bonaventura, Hakan dan Kalinic dimainkan namun hal itu tidak mampu menolong Milan dari kekalahan.

Memang ini baru pertandingan ke 3 musim kompetisi 2017/2018 dan perjalanan masih panjang, apalagi Milan berlaga di 3 kompetisi. Dengan kekalahan dari Lazio ini seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi dan interospeksi bagi skuat Milan untuk lebih memperkuat diri menghadapi kompetisi yang dilakoninya. Pemilihan pemain dan formasi akan menentukan langkah Milan selanjutnya.

Forza Milan! Kami tetap bersamamu!

September 7, 2017

Quo Vadis, Persijap?

[foto dari akun twitter Esti Puji Lestari]
Banding yang diajukan Persijap atas keputusan Komisi Disiplin yang memberikan hukuman atau sanksi denda 100 juta rupiah dan dinyatakan kalah WO 0-3 dari Persibat memang tidak mengubah kondisi Persijap yang tetap akan berlaga di Liga 3 musim depan. Tapi, apapun hasil dari banding tersebut, apa yang sudah dilakukan oleh manajemen Persijap patut diapresiasi karena itu menyangkut hak yang bisa dipergunakan manakala ada ketidak setujuan terhadap keputusan yang ditetapkan.

Setelah melewati pertandingan demi pertandingan di kompetisi Liga 2 tentu jajaran manajemen dan pelatih sudah memiliki catatan-catatan mengenai apa yang sudah dan atau belum ada di skuat, apa yang harus diperbaiki dan atau bahkan perlu ditingkatkan dari kedalaman skuat yang dimiliki Persijap. Itu akan menjadi modal yang sangat berguna untuk mengarungi kompetisi musim depan.

Komitmen CEO Persijap Esti Puji Lestari yang tetap akan menghadirkan sepakbola yang bersih dan profesional di Jepara perlu mendapat dukungan, walaupun  memang belum menorehkan prestasi. Juga perlu ditunggu apa yang akan menjadi kelanjutan dari apa yang selama ini disebut dengan "Persijap 5 Years Plan".

Baru-baru ini tersiar kabar bahwa Charlos Raul Sciucatti yang di beberapa pertandingan terakhir menjadi pelatih Persijap terlihat hadir di stadion Kamal Junaidi untuk memantau dan mencari bibit-bibit baru pesepakbola di Jepara, untuk kemudian dapat menjadi tulang punggung Persijap di masa datang, syukur-syukur bisa mengorbit ke level nasional. Bukan suatu hal yang mustahil, tapi juga bukan hal yang mudah.

Dalam waktu dekat pihak manajemen dan seluruh skuat Persijap akan mengadakan acara semacam "grenengan" dengan para suporter di stadion Gelora Bumi Kartini. Acara yang dimaksudkan untuk dapat saling berkomunikasi antara pihak klub dengan suporter, juga dengan tokoh-tokoh sepakbola di Jepara, yang diharapkan akan dapat memberikan gambaran mengenai apa yang akan dilakukan di musim yang akan datang.

Ya, Persijap tidak akan ke mana-mana, tetap akan ada di Jepara. Berlaga di kasta apapun barisan suporter baik yang tergabung dalam Banaspati, Jetman, Curva Nord Syndicate maupun suporter yang tidak tergabung di kelompok suporter manapun, akan tetap mendukung dan datang memenuhi stadion. Bagaimanapun, antara klub dan suporter itu seperti sepasang kekasih sejati yang tak bisa terpisahkan.

September 6, 2017

Milan Rasa Baru?

twitter.com

Semalam jendela transfer musim panas sudah ditutup, dan pergerakan Milan diakhiri dengan kepergian Mbaye Niang ke Torino. Namun hal ini masih menyisakan sebersit tanya di kalangan Milanisti. Karena mereka menganggap ada janji yang sebelumnya disampaikan oleh manajemen Milan tapi belum terpenuhi, yaitu pembelian seorang nama besar untuk memperkuat skuat Milan. 

Mirabelli mengatakan bahwa sebenarnya Aubameyang ingin kembali ke Milan namun apadaya Borussia Dortmund tidak mengijinkannya pergi. Padahal kedatangan Aubameyang sangat ditunggu-tunggu oleh Milanisti dan dianggap dapat memperkuat lini serang Milan. 

Pos striker saat ini diisi oleh Andre Silva, Nikola Kalinic dan Patrick Cutrone.  Sementara Andre Silva masih harus beradaptasi dengan iklim Serie A, Milan bisa berharap pada Kalinic yang sudah punya pengalaman di Serie A, juga penyerang belia Cutrone.

Hanya di posisi sayap kiri masih dianggap meragukan mengingat kondisi Bonaventura yang sedang cedera. Borini yang beberapa kali dicoba di posisi tersebut dianggap kurang maksimal. Tapi ingat, Milan masih punya Hakan yang selain bisa ditempatkan di pos belakang striker juga bisa dipasang di sayap. 

Dengan skuat yang ada sekarang Milan harus memaksimalkan semua potensi yang dimiliki. Pemilihan strategi, formasi dan rotasi oleh Vicenzo Montella akan sangat menentukan perjalanan Milan di kompetisi yang diikutinya, baik di Serie A maupun Eropa. Skuat juga harus meminimalkan resiko cedera yang menimpa pemain agar penampilan bisa maksimal. 

Forza Milan!

Suporter Tanpa Seragam


Layaknya seorang suporter sebuah kesebelasan yang berlaga di kompetisi sepak bola, baik di dalam negeri maupun luar negeri, hampir bisa dipastikan memiliki seragam yang menjadi ciri khas kesebelasan yang didukungnya. 

Seorang Madridista pasti mengoleksi seragam kebesaran El Real yang berwarna putih, atau seorang Milanisti yang akan mengoleksi seragam kebanggaan AC Milan berwarna merah-hitam. Seorang Jakmania akan mengoleksi seragam berwarna oranye yang menjadi kebanggaan kesebelasan Persija, atau seorang Panser akan mengoleksi seragam warna biru khas PSIS.

Seragam dapat diperoleh di berbagai tempat yang menjual berbagai macam pernik sepak bola, baik secara onlen maupun oflen, baik yang orisinil maupun tiruan. Saya tidak akan membahas soal itu.

Di dalam stadion di mana kesebelasan kebanggaan kita bertanding pasti akan didominasi oleh warna yang menjadi ciri khas kesebelasan itu. Namun di antara mereka yang hadir di stadion, ada juga yang memilih tidak mengenakan seragam yang sama dengan kesebelasan yang didukungnya. 

Mereka tampil apa adanya. Menggunakan pakaian yang bahkan mungkin tidak mencirikan sebagai seorang penggemar sepak bola. Mereka mengenakan pakaian kasual sehari-hari, atau kaos oblong dengan warna yang bisa jadi jauh berbeda dengan warna khas kesebelasan yang didukung.

Bukan berarti mereka tidak sepenuh hati dalam memberikam dukungan, bukan pula kadar kefanatikan mereka lebih rendah dari pada mereka yang "berseragam" itu. Semua itu berdasarkan pilihan mereka sendiri. Mereka mendukung dengan cara mereka sendiri, mereka pun mengkritisi penampilan kesebelasan yang didukungnya menurut cara mereka. Mereka tidak punya pemimpin untuk mengoordinir dan mengatur mereka. Mereka berdiri sendiri. Independen.

Mengenakan seragam atau tidak adalah sebuah pilihan, sebagaimana apakah kita akan bersepatu atau bersandal jepit ketika memasuki stadion. Namun dengan gairah yang sama mereka digerakkan untuk bersama-sama menuju stadion, mendukung kesebelasan yang dibanggakannya, dengan berseragam atau berpenampilan biasa saja.